Wednesday, April 29, 2009
Puji Tuhan, Beasiswa Ketigaku
Pikirku, nilai ini bisa menjegalku dalam pengejaran beasiswa ketigaku selama di IBII, oleh mata kuliah yang seharusnya tidak aku ambil. Namun rasa optimis itu tetap kutanam, dan percaya pada kemurahan Tuhan Yesus. Belajar adalah belajar, walaupun penyakitku tetap sama, malas mempersiapkan ujian dari jauh-jauh hari dan anti 2H, alias tidak bisa belajar lebih dari 2 jam per satu mata kuliah. Yang penting kualitas belajar dan pemahaman, batinku.
Aku selalu ingin memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaanku, apapun mata kuliahnya, siapapun dosennya. Maka ujian akhir semester (UAS) Etika Bisnis yang mendebarkan itupun kulalui dengan sedikit kerikil di pikiran, sesaat setelah keluar ruangan. Ada beberapa poin yang seharusnya tak kulupakan. Mungkin karena aku jarang atau malah parno mengulang terus secara cepat, makanya ada yang lupa. Dosen ini memang tergolong unik. Buktikan penilaiannya salah, atau sebaliknya, nilai kami yang dikurangi. Bahkan salah satu rekan ada yang mendapat nilai di bawah 60, dan malah dikurangi saat ia diprotes. Wah wah..
Dosen inipun terkenal sangat menikmati menilai setiap lembar ujian kami, alias lamaaaa sekali. Bahkan nilai UTS kami baru selesai ketika minggu depannya sudah mulai UAS. Hal yang sama terjadi saat penilaian UAS. Ini membuat hatiku makin berdebar hari demi hari yang dilalui. Nilai ujian lain yang kuanggap 'cukup menakutkan' sudah dipastikan dapat nilai A.
Suatu saat, nilai itu keluar juga. Suatu berita yang sangat mengundang rasa keingintahuanku. Begitupun dengan teman-teman lain yang 'senasib' denganku. Well, God is Good!! Ia memberikan kesempatan ini sekali lagi bagiku. Sebuah angka 95!!! Angka yang sangat mendongkrak nilaiku secara keseluruhan, bahkan ditutup dengan nilai rata-rata hampir 90. WOW!! Salam semangat untuk salah satu teman wanitaku di kelas yang punya nilai UTS lebih tinggi, namun ternyata menurun di UAS-nya dan gagal dapat beasiswa. Keep going, sis! I won't have you on the stage as the scholarship-girl for now, but this time a great Master of the Ceremony!
So, kali ini aku membeli sebuah laptop ACER dari kepastian beasiswa ketigaku, laptop yang saat tulisan ini dibuat, sedang kupakai dan kunikmati. Thanks Lord for the very chance, I'll always do my best for You and Your Glory.
Aku tidak memiliki ekspektasi apa-apa semester ini, mengingat ada proyek yang lebih besar dari sekadar mengejar nilai, yaitu magang kerjaku. Satu hal yang mungkin juga akan memperlambat input nilai semester ini dan akhirnya bisa tidak dianggap tidak dapat beasiswa, walaupun semuanya A. Well, that's another thing. Syukur kalau dapat, kalau tidak ya tidak apa-apa.
"Always do the best and let Jesus do the rest"-DIOS TE BENDEGA (God Bless You)
Friday, April 24, 2009
9 Bulan Dalam Rahim
Saturday, March 28, 2009
38 Parpol, Simbol Keterceraiberaian Bangsa
Jangan dulu membandingkan negara kita dengan AS, yang hanya punya 2 wakil dari 2 partai yang sangat merepresentasikan aspirasi rakyatnya, karena perbandingannya masih terlalu jauh. Let's say, negara kita memang super-heterogen dan super-variatif. Namun, apabila satu ideologi saja tidak bisa diwakili oleh satu buah partai politik, lantas apa yang sedang dicari?
Islam, sebagai agama yang paling dominan di negeri ini saja, tidak cukup diwakilkan oleh 2-3 partai politik, namun lebih dari 5 (silahkan disebutkan sendiri dalam hati). Itu dalam hal agama. Bagaimana dengan ideologi lain? Yang mengusung tema "demokrasi" juga tidak cukup satu partai. Setidaknya saat ini ada 2 partai besar yang berbunyi "demokra..." dari kepanjangan namanya. Well, hal serupa dialami oleh partai-partai lainnya.
Sebenarnya hal ini juga baru saya sadari sejak salah satu dosen mata kuliah Etika di kampus menyinggungnya. Bagaimanapun, ini potensi keceraiberaian bangsa. Istilahnya, tidak akan pernah ada partai yang bisa mewakili aspirasi rakyat. Saya juga tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi. Namun, jujur, sebagai WNI yang sudah punya hak pilih, saya sangat bingung bagaimana memilih partai yang benar. Saya akan selalu berprinsip bahwa GOLPUT bukanlah pilihan dari WNI yang baik dan benar. Namun, jika rakyat dicekoki dengan 38 ideologi, visi, misi berbeda, bagaimana mau memilih? Ibaratnya, seperti iklan rokok terbaru di TV, semakin banyak pilihan, maka semakin bingung..
Inilah yang masih menjadi dilema bangsa Indonesia. Pilihan rakyat cenderung akan mengikuti frekuensi iklan parpol yang tinggi di media massa, atau mengikuti nama capres yang mereka tahu saja, bukan berdasarkan ideologi yang mereka yakini benar. Apalagi iklan parpol di media massa banyak yang salah kaprah, salah bahasa, dan salah-salah yang lain, sehingga rakyat semakin bingung.
Masih ingat parpol apa yang dalam iklannya, sangat bangga akan penurunan harga BBM sebanyak 3 kali (terbanyak sepanjang sejarah)??? Dari 1 hal ini, ada 2 kemungkinan; BENAR-BENAR BODOH, atau BENAR-BENAR BOHONG??
Just a thought..
Kampanye Terbuka Cuma Bikin Macet
Nah, negeri kita sedang menantikan pemimpin-pemimpin baru tahun ini. Pastinya, ada banyak cara yang dilakukan oleh ke-38 partai politik untuk mendapatkan rasa simpati masyarakat, salah satunya adalah kampanye terbuka. Yang menambah masalah justru konvoy parpol yang dilakukan oleh "orang-orang bayaran" parpol inilah yang menambah derita masyarakat Jakarta dan sekitarnya, bahkan di seluruh Indonesia. Bagian dari kampanye terbuka ini yang justru semakin membuat masyarakat pengguna jalan semakin antipati dengan brand parpol yang dibawanya. Memang sampai saat ini, mudah-mudahan tidak pernah terjadi, tidak ada aksi anarkhis atau aksi keras yang bisa membahayakan masyarakat, namun ketidakdisiplinan orang-orang inilah yang membuat gusar. Sementara pengguna jalan lain harus mengalah terus menerus. Yah, daripada nanti mati digebukin...
Pak SBY secara terbuka malah memohon maaf karena aksi kampanye terbuka ini jelas-jelas memang menciptakan kemacetan di mana-mana. Lah, Pak, dicari dong cara lain untuk menambah simpati masyarakat buat parpolnya. Kalau caranya begini terus, masyarakat malah semakin stres, dan mengutuki para pengguna jalan lain yang tidak disiplin tersebut. Alih-alih mencontreng foto Bapak atau Ibu yang diusung tersebut, malah tidak jadi deh..
Singkatnya, minimalisir konvoy seperti ini. Rakyat sudah mual dengan banyaknya spanduk, baliho, selebaran, pamflet, dll yang tersebar di mana-mana. Jangan ditambah dengan aksi-aksi yang sangat tidak efektif dan efisien ini. Sudah tahu Jakarta padat, jangan lagi ditambah-tambahin..
Just a thought..
Surat Untuk Mama
Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi .Dia bertanya dengan penuh harapan:
Bagaimana anakku? Apakah dia dapat disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?
Dokter bedah menjawab,
“Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu tidak tertolong"
Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker?
Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi?
Di mana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu? "
Dokter bedah bertanya, “Apa Ibu ingin bersama dengan anak ibu selama beberapa waktu?
Perawat akan keluar untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke universitas. "
Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.
“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?” perawat itu bertanya.
Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di dalam kantung plastik untuk disimpan.
Ibu Sally berkata, Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.
“Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, 'Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.. "
Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya. "
Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama enam bulan di sana untuk merawat Jimmy…Dia membawa kantung yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong.Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantung plastik yang berisi segenggam rambut itu di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu. Kemudian dibaringkan dirinya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur. Di sekitar tengah malam, bu Sally terjaga. Di samping bantalnya terdapat sehelai surat yang terlipat.
Surat itu berbunyi:
“Mama tercinta,
Saya tahu mama akan kehilangan saya; tetapi saya akan selalu mengingatmu ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang mama’.
Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba, jika mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa ma .
Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.. Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki.
Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku ma. Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sana.
Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang melihatnya terbang. Dan apa mama tahu apa yang kulihat? Yesus tidak terlihat seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku melihat-Nya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku menemui Allah Bapa! Tebak ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Bapa dan berbicara dengan-Nya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.
Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkan- Nya. Tapi mama tahu, Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis surat ini kepada mama. ter..
Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu ma. Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan mama ketika mama bertanya ‘Di mana Allah pada saat aku membutuhkan- Nya?’ Allah mengatakan Dia berada bersama diriku seperti halnya ketika putera-Nya Yesus disalib.
Dia ada di sana ma, dan dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasa kan ma? Sekarang saya harus mengembalikan pensil Bapa yang aku pinjam.
Bapa memerlukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan.. Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan-Nya. Aku yakin makanannya akan lezat sekali..
Oh, aku hampir lupa memberitahukanmu ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan.
Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa! Bagaimana ma?
Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku.